RUU Pertembakauan, Cara Elegan Tolak Impor Regulasi

IMG_20141231_220949

Isu tembakau kembali menjadi salah satu trending topic setelah rapat paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Senin (9/2) lalu, mengesahkan 159 RUU periode 2015-2019. Pada tahun 2015 telah ditetapkan prioritas 37 RUU untuk dibahas, salah satu RUU yang menjadi prioritas adalah RUU Pertembakauan.

RUU Pertembakauan tersebut lahir dari perdebatan panjang pro-kontra antarkelompok masyarakat mengenai produksi dan konsumsi tembakau yang diklaim menimbulkan dampak masalah kesehatan, walaupun isu kesehatan sendiri dinilai tidak berdiri sendiri menjadi faktor determinan dalam merespons problem pertembakauan.

Di sisi lain, regulasi yang menjadi landasan yuridis dalam pengaturan masalah pertembakauan juga dinilai kurang memadai. Regulasi yang ada lebih banyak merespons isu tembakau dari dimensi kesehatan. Hal ini bisa kita lihat pada UU Nomor 36/2009 tentang Kesehatan yang menegaskan tembakau sebagai zat adiktif, dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 102/2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan.

Balur ‘’Divine Cigarette’’, Kretek Penyembuh Segala Penyakit

501177gbm

Semua orang pasti merasa akan merasa heran mendengar bahwa rokok kretek (tembakau) bisa dijadikan media pengobatan, apalagi untuk penyakit kronis dan menurun (degeneratif) seperti kanker.

Lebih heran lagi, jika seseorang melihat aktivitas merokok justru disejajarakan dengan  terapi penyembuhan dan detoksifikasi racun dalam tubuh. Sebab, publik sudah telanjur akrab dengan stigma bahwa tembakau merupakan salah satu faktor penyebab kanker.

Powered by WordPress | Designed by: buy backlinks | Thanks to webdesign berlin, House Plans and voucher codes